5 teknologi gagal yang pernah ada di dunia TV

Ada pula teknologi yang gagal yang dapat ditemukan di hampir setiap kategori. Meski demikian, pada awal perkenalannya teknologi ini sempat sangat populer.

Teknologi memang akan mengubah hidup kita, bakan telah membuatnya lebih praktis. Contoh paling terkenal dalam perkembangan teknologi adalah internet, ponsel pintar, Wi-Fi, dan masih banyak lagi. Meski demikian, ada pula teknologi yang gagal, yang dapat ditemukan di hampir setiap kategori. Berikut adalah kegagalan teknologi dalam dunia TV dilansir dari Digitaltrends.

1. Rear-projection TV

Teknologi TV tabung (CRT) telah mendominasi industri TV hingga tahun 1990-an, tetapi teknologi ini menjadi sangat mahal dan sulit diproduksi pada ukuran layar yang lebih besar dari 32 inci. Untuk mengatasi masalah ini, munculah rear-projection TV. Hasilnya seperti bioskop mini, dan biaya pembuatan yang jauh lebih murah dari CRT.

Sayangnya, TV dengan proyektor di balik layarnya ini mengalami gangguan warna menurun ketika dilihat dari sudut agak lebar, gangguan rainbow efek yang disebabkan oleh color wheel, kecerahan yang tidak terlalu tinggi, dan proyektor di belakangnya terkadang terjadi gangguan sinkronisasi dengan pinggiran layar.

Pada pertengahan tahun 2000-an, LCD dan plasma mulai muncul dalam ukuran yang lebih besar serta dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada rear-projection TV. Dengan demikian, teknologi TV berproyektor tersebut perlahan mulai tergerus.

2. TV 3D

Meskipun dorongan besar 3D pernah hadir di hampir setiap produsen TV, teknologi TV 3D terbilang gagal. Meski tahun 2010 menandai tahun TV 3D menjadi mainstream, sudah jelas bahwa teknologinya bermasalah. Pada 2019, tidak ada satu pun TV 3D di pasar.

Ada sejumlah faktor yang menjadikannya gagal. Terdapat dua jenis teknologi 3D, yaitu aktif dan pasif. TV 3D aktif menggunakan kacamata lebih mahal untuk mencapai penglihatan stereoskopik dengan menyinkronkan proyeksi gambar kiri/kanan secara cepat dan bergantian. Ini mengurangi kecerahan yang ada tetapi mempertahankan resolusi. Teknologi aktif juga mengalami crosstalk ketika proses sinkronisasi tidak benar.

3D pasif adalah teknologi yang digunakan oleh bioskop dan bergantung pada lensa terpolarisasi yang berharga murah untuk memisahkan gambar kiri/kanan yang diproyeksikan secara bersamaan di layar. Kecerahan lebih baik daripada 3D aktif, tetapi mengorbankan resolusi.

Tidak ada sistem yang bekerja dengan baik jika penonton tidak duduk di tengah-tengah. Selain itu, kebanyakan orang mulai bertanya-tanya mengapa mereka membutuhkan TV 3D ketika sebagian besar konten yang mereka tonton hadir dalam format 2D.

3. TV lengkung

TV lengkung hadir tepat ketika TV 3D kembang-kempis. Tujuannya adalah agar pengguna dapat melihat bidang pandang yang lebih jelas di seluruh sisi, sehingga diklaim akan menciptakan pengalaman yang lebih mendalam (hampir 3D) karena membuat semua gambar sama jauhnya dari mata penonton.

Kenyataan bagi kebanyakan orang adalah “tidak sebagus itu”. Dari desain, TV ini memang memiliki estetika yang baik, tetapi TV lengkung tidak benar-benar mencapai pengalaman imersif yang dijanjikan. Selain itu TV ini menampilkan gambar asimetri yang aneh jika penonton tidak duduk di tengah-tengah sofa.

4. TV aspect ratio 21:9

Pada resolusi 720p, 1080p, 4K, dan 8K, aspect ratio TV masih menggunakan 16:9. Namun, perbandingan tersebut masih agak lebih sempit jika dibandingkan dengan Cinemascope 21:9, rasio yang digunakan oleh beberapa film epik seperti Avatar, Raiders of the Lost Ark, Jaws, The Matrix, dan masih banyak lagi.

Jika dilihat dari format aslinya di TV 16:9, film-film itu akan menghasilkan bilah hitam cukup besar di bagian atas dan bawah. Meskipun hampir tidak terlihat di ruangan yang gelap pada TV OLED, diyakini bahwa ada permintaan untuk TV yang tidak memerlukan pengorbanan seperti itu, sehingga produsen menciptakan model 21:9 ultra lebar.

Sayangnya, sebagian besar konten video tidak direkam pada 21:9, yang berarti TV 21:9 masih akan memberikan bilah hitam. Bilah ini akan muncul di samping, bukan di atas dan bawah, mereka muncul lebih banyak kecuali pengguna benar-benar menonton film dengan format 21:9. Dengan demikian, kebanyakan orang memutuskan mereka bisa menyesuaikan diri dengan bilah hitam di atas dan bawah.

5. Kontrol gerakan

Gesture control (kontrol gerakan) dimungkinkan dengan penambahan kamera ke smart TV. Tetapi sistem kontrol gerakan yang paling populer saat ini adalah Microsoft Xbox Kinect. Aksesori Xbox berbasis kamera bermotor itu menjadi teknologi konsumen yang paling cepat diadopsi dalam sejarah (mengalahkan DVD), dengan 35 juta unit telah terjual dari 2010 hingga 2017.

Sistem kamera depth-sensor Kinect memungkinkan bermain video gim dengan seluruh tubuh pengguna, dan tidak memerlukan peralatan lain seperti alas sensor, papan keseimbangan, atau kontroler genggam.

Kematian Kinect pada akhirnya adalah kasus klasik dari janji yang berlebihan dan kurang memuaskan dari pihak Microsoft. Kampanye iklan awal menunjukkan para gamer memindai skateboard dunia nyata mereka untuk digunakan dalam simulasi gim skating dan para wanita dengan bersemangat mencoba pakaian virtual. Tidak satu pun dari skenario ini terwujud. Pada akhirnya, hanya beberapa gim yang memanfaatkan kemampuan Kinect dengan baik.

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia